Selasa, 22 Desember 2015

GOOD BYE JAKARTA, I AM BACK TO MY HOMETOWN

Hidup di ibukota adalah impian sebagian orang dan begitu juga bagiku. Aku berfikir enak kali ya hidup disana, kerja kantoran, gaji segudang dan mau ber-glamour ria pun banyak tempat buat menyalurkannya. Ah pasti nikmat sekali hidup disana, fikirku saat itu. Apalagi saat itu pujaan hati sedang ada disana pasti asyik tuh tidak perlu ber-LDRan ria. Bebas galau bro,hehehe.

Akhirnya akhir 2014 ada kesempatan buatku untuk berkarir di ibukota. Tanpa fikir panjang pun aku ambil kesempatan itu karena memang itu mimpiku. Aku tinggalkan semua yang ada di Semarang dan memulai lembaran baru di Jakarta. Kota yang selama ini hanya bisa aku lihat di TV dan hanya sekali lewat saja berkunjung disana. Jakarta I'm comming....

Di Jakarta akupun bekerja disebuah perusahaan keluarga yang berbasis dibidang pengadaan barang pemerintah. Hmmm, sebuah permainan baru bagiku yang memang selama ini hanya menekuni bidang travel. Tantangan baru semangat baru kehidupan baru dan keluarga baru, paket komplit dah fikirku. Pemilik perusahaan ini pun sangat baik padaku dan akupun diijinkan tinggal di kantor tempatku bekerja. Beruntung sekali aku bisa merantau kesini dan mungkin semua sudah disediakan secara instan. Ah nikmatnya....

Waktu pun bergulir dan kehidupanku di Jakarta pun mulai berjalan. Awal mengijakkan ke Jakarta aku sudah dihadapkan dengan penyakit Jakarta yang selalu menyerang doi, apalagi selain banjir. Iya waktu aku pertama kali tiba di Jakarta aku sudah dibuat pusing karena banjir. Aku waktu itu yang baru tiba dari Jawa Tengah bareng bos ku bingung harus lewat mana untuk sampai rumah karena jalan utama dan alternatif tertutup air tinggi. Muke gile dah baru pertama kali kesini sudah begini aja kondisinya. Akhirnya setelah bersusah payah mencari jalan tembus dan memutari area banjir akhirnya nemu juga jalan ke rumah. Ah bersyukurlah. Hmmm ternyata begini ya Jakarta kalau banjir, fikirku setelah sampai rumah. Tapi hal itupun tidak menyurutkan semangatku waktu itu, bahkan semangatku semakin menjadi-jadi. Maklum lagi anget-angetnya.hehehehe.

Banjir memang penyakit parah di ibukota. Hampir semua sisi dari ibukota pasti ada saja daerah yang tergenang. Wah parah bener dah. Sampai-sampai banyak aktivitas yang tidak bisa aku lakuin waktu banjir. Gila aja mau keluar daerah aja susah apalagi sampai ke pusat kota. FYI aku tinggal di Jakarta Barat yang berbatasan dengan Tangerang. Akhirnya banyak pekerjaan yang tertunda akibat musibah tahunan ini. Dan nampaknya bukan aku saja yang mengalami hal seperti ini.

Dan masuk februari 2015 nampaknya banjir mulai mereda di Jakarta. Dan nampaknya musim penghujan pun berganti menjadi musim kemarau. Dan lagi-lagi panasnya ibukota ini tak kalah dengan banjirnya. Kalau panas beh, kayak masuk oven aja deh. Coba saja kalau berani naik motor saat panasnya Jakarta tanpa pakai sarung tangan atau pakai jaket. Dijamin gosong-gosong dah itu kulit. Ditambah polusi kendaraan yang naudzubilah makin memperparah keadaan. Pernah waktu aku pulang kampung pas pertangahan tahun 2015 di Jakarta dan ketemu teman lama, dan komentnya adalah "kok kamu jadi dekil dan item gini ya bro?". Amsyong dah ternyata bukannya semakin keren tinggal dikota malah jadi dekil. Tapi ya memang begitu kenyataannya, memang polusi udara yang sangat tinggi dan lingkungan yang gag ada bersahabat-sahabatnya memang merubah diriku ini semakin dekil.

Selain itu penyakit Jakarta yang tak kalah serunya aku hadapi adalah kemacetan. Buset deh itu namanya jalanan kalau pas jam kantor tidak ada sepinya. Mulai dari jalan kecil sampai jalan besar penuh kendaraan bermotor. Belum lagi gaya mengemudi mereka yang suka belok seenak jidatnya, ah kacau bener dah nih jalanan. Aku pun awal kali berkendara disana kagok. Apalagi waktu bawa mobilnya bos yang baru. Behhhh senam jantung dah, disrobot kanan kiri para pengendara motor. Apalagi di daerah2 tertentu kalau malam libur ada pasar malem. Hmmmm, makin berfikir dua kali kalau mau berpergian naik mobil. 

Kurang lebih 10 bulan aku hidup dilingkungan egois ini. Kehidupanku semakin tidak karuan. Bukan berarti aku salah pergaulan ke arah negatif ya, tapi kondisi keuanganku. Hidup di Jakarta walaupun gaji gede tapi pengeluaran pun juga gede. Sering kali ngenes sendiri kalau akhir bulan karena hanya ngonsumsi mie instant dan air putih aja tiap hari. Bukannya aku tidak bisa mengatur keuangan, tapi mungkin memang pengeluaranku lebih besar daripada income yang aku dapet. Muke gile dah makin kurus kering aja aku waktu itu. Beratnya memang hidup disana.

Dan puncak kesabaranku diuji ketika aku kena kecopetan. Dan itupun tidak hanya sekali tapi dua kali berturut-turut dalam sebulan. Kalau yang pertama memang aku ceroboh menaruh gadget di celana. Alhasil pas desek-desekan naik bus transjakarta ilang dah itu hp. Setelah kejadian itu aku belajar tidak pernah naruh gadget dicelana tapi aku taruh di tas dan tas itu selalu aku gendong di depan. Tapi nampaknya maling lebih pintar dan raib lagi deh gadgetku waktu itu di transportasi umum. 

Kejadian demi kejadian terjadi dalam waktu aku tinggal di Jakarta. Suka dan duka pun pasti ada. Suka ku disana aku menemukan keluarga baru yang tidak pernah aku duga. Keakraban disuatu media sosial nampaknya bisa membangun hubungan positif dikehidupan nyata. Suatu hal yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Tapi nampaknya duka kehidupan disini nampaknya lebih besar. 

Memang kita tidak akan mengerti suatu hal sebelum kita sendiri terjun ke dunia itu dan itupula yang terjadi padaku. Awal aku memilih hidup di ibukota pandanganku nampak seperti orang awam biasanya, namun setelah aku sendiri merasakan kehidupan disana nampaknya aku harus setuju dengan kata-kata sahabatku. "Dikapak2no luwih enak urip nak kampung tinimbang kerjo nak kene. (Mau diapakan juga lebih enak kerja di daerah daripada harus kerja di sini)". Dan satu hal yang ikut memberatkan aku juga tak kala sang ibu yang melahirkan aku pun nampaknya tidak rela kalau anak tertuanya ini kerja disana. Akhirnya setelah aku fikir dengan matang akupun pulang lagi ke kampung halamanku di jawa tengah dan mencoba mencari keberuntungan disana. Dan nampaknya memang Alloh itu membuka rejeki dimana saja untuk hambaNya yang berusaha. Setelah pulang kampung dan tak lama kemudian aku pun dapat pekerjaan di kota keretek dengan penghasilan lebih besar daripada di Jakarta dulu. Sungguh keberuntungan yang tidak pernah aku duga.

Aku menulis ini bukan bermaksud menjelek2an Jakarta, namun aku hanya ingin menuliskan keluh kesahku selama kehidupanku disana. Semoga tulisan ini bisa menjadi memori buat aku sendiri ketika aku lelah disini dan mulai bertindak ceroboh, dengan tulisan ini aku harap bisa jadi remminder sendiri buat aku kalau aku pernah melewati masa buruk dan jangan sampai terulang lagi.

Arifin    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar